Walimatul Ursy

overview_ringAlhamdulillah segala puji bagi Allah Rabb Seru sekalian alam, yang telah memberikan nikmatNya yang cukup banyak kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabiyullah Muhammad SAW. Teriring doa dan harapan semoga Allah senantiasa membimbing kita hambaNya agar termasuk kepada barisan orang-orang yang saleh, shiddiqin, anbiya wa mursalin.

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kampung kami apabila memasuki bulan Dzulhijjah atau yang lebih dikenal dengan bulan Haji adalah waktu yang dianggap baik buat menggelar hajatan alias ‘ngawinin anak’. Dalam bulan itu kami sekeluarga bisa mendapatkan sampai 2 atau 3 undangan menghadiri pernikahan setiap pekannya. Setiap akhir pekan hajatan tersebut biasanya digelar memakai space waktu dua hari favorite yaitu hari Sabtu dan Ahad. Sehingga biasanya kalau ada yang mengundang kami dirumah secara otomatis terjadi penghematan karena kami tidak perlu repot-repot masak buat makan siang. Karena biasanya undangan itu waktunya pas dengan waktu datangnya makan siang. Lumayan juga bisa berhemat plus bisa perbaikan gizi maklum biasanya menu yang dihidangkan ditempat hajatan lebih banyak variasinya daripada jika masak sendiri di rumah. Minimal ada dua hal yang bisa kami dapatkan dari setiap undangan hajatan yang kami terima, pertama silaturahim nyambung terus dan yang paling penting hati senang dan perut pun kenyang.

Pernikahan sepasang anak manusia memang adalah ajaran yang mulia dari syariat Islam. Pernikahan banyak mengandung kebaikan-kebaikan yang dapat mengundang ridho dan rahmat dari Allah SWT. Dalam pernikahan banyak hal positif yang bisa didapatkan yang kesemuanya itu kembali lagi dimaksudkan untuk kebaikan hidup manusia itu sendiri. Islam mengatur pernikahan dengan segala tujuan-tujuannya yang mulia yang sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri.Manusia adalah mahluk yang dimuliakan oleh Allah SWT, bahkan dalam sebuah ayat disurat Al-Baqarah Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam AS. Manusia berbeda dengan mahluk yang lainnya. Dalam diri manusia lengkap telah Allah anugerahkan segenap potensi. Dalam sebuah ayat di dalam kitabNya yang mulia Allah SWT menjelaskan secara sederhana bahwa dalam diri manusia ada potensi fujur (kerusakan) dan ada potensi takwa (ketaatan). Dalam diri manusia ada nafsu (keinginan-keinginan/kecenderungan-kecendurangan) yang hal tersebut diatur dalam syariat bagaimana mengontrol dan mengendalikannya. Salah satu nafsu tersebut adalah syahwat, manusia suka kepada lawan jenis sehingga Islam memberikan jalan keluar yang demikian mulia dengan adanya lembaga pernikahan. Tidak seperti hewan atau binatang yang dapat memuaskan syahwatnya dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Dengan pernikahan kehidupan umat manusia bisa lebih terjaga. Pernikahan juga dapat mengikatkan hubungan silaturahim yang lebih kuat antar kedua keluarga besar. Dan yang paling penting pernikahan adalah terciptanya sebuah keluarga yang mawaddah wa rahmah yang dibingkai dengan akidah yang teguh dan mantap dalam bingkai syariat Islam. Sehingga dari keluarga tersebut lahirlah para keturunan anak-anak yang saleh dan salehah yang dapat terus melanjutkan dan menunjukkan kesetiaannya kepada dinul Islam.

Tujuan pernikahan yang demikian mulia, dapat menjadi sesuatu yang tidak mendapatkan maknanya apabila tidak difahami dengan baik oleh setiap individu umat Islam. Sehingga menambah terus pemahaman dan kefahaman tentang dinul Islam menjadi keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam kehidupan seorang Muslim. Seperti dalam ritual sebuah acara pernikahan yang biasanya menjadi acara inti adalah acara akad nikah. Dalam acara akad nikah biasanya sebagian besar adab dan tata cara yang disyariatkan oleh Islam masih dapat terjaga dengan baik. Seperti di kampung kami biasanya akad nikah dilangsungkan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at, dilangsungkan di Masjid , dipisahkan antara tamu laki-laki dan perempuan, disaksikan dan di doakan oleh para ulama setempat dan tokoh-tokoh masyarakat. Setelah itu biasanya acara resepsi (walimatul ursy) untuk memberikan kesempatan para karib kerabat, handai taulan, teman, tetangga untuk berkenalan dan mendoakan buat kedua mempelai dilangsungkan pada hari berikutnya yaitu hari sabtu. Situasi yang berbeda akan kita temukan pada saat pelaksanaan resepsi, biasanya resepsi diadakan di rumah mempelai wanita, sulit untuk memisahkan tamu laki-laki dan perempuan karena mungkin kondisi tempat dan ruang yang tidak memungkinkan, dan biasanya ada suara musik sebagai hiburan yang menemani para tamu undangan sambil menikmati santapan makan siang.

Dalam peristiwa walimatul ursy yang seharusnya juga penuh dengan berkah dan bernilai ibadah sebagaimana acara akad nikah, ada sebahagian Shahibul Hajat yang akhirnya menutup keberkahan tersebut dengan sebuah hiburan yang mungkin dapat menodai kesakralan dari acara itu sendiri. Mungkin maksudnya ingin menghibur dan menyenangkan hati para undangan dan para handai taulan. Namun karena ketidakfahamannya maka peristiwa yang penuh dengan nilai ibadah tersebut mengalami ketidaksempurnaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Ada sebahagian masyarakat ditempat kami yang memiliki tingkat ekonomi dan strata sosial yang lebih baik menjadikan hiburan dangdut organ tunggal dengan penyayi-penyayi wanitanya menjadi pelengkap dari rangkaian kegiatan resepsi pernikahan anak-anak mereka. Syair-syair lagu yang dinyayikan pun sangat jauh dari pesan untuk selalu mengingat Allah. Waktu pun berlalu siang berganti malam, hiburan dangdut terus berlangsung sampai jauh malam, menutup ibadah tersebut dengan desah suara para biduan. Ya Allah berilah petunjukMu kepada mereka. Dan ampuni kami karena kami tak mampu untuk berbuat yang lebih baik dari sekedar selemah-lemah Iman dalam hati kami.Amin


Leave a Comment